Templates by BIGtheme NET

Petaka Mengintai Di Citarum

banjir-di-bandung-capai-atap-rumah-ekonomi-lumpuh-azlSitu Cisanti adalah hulu dari sungai Citarum. Tempat ini diberkati dengan alam yang indah khas Tanah Parahyangan. Danau yang berair hijau kebiru-biruan tenang ditiup angin dari Gunung Wayang. Tegakan hijau pohon eucaliptus yang berwarna warni menjadi penghias yang manis.

Jika kata Parahyangan berarti tempat tinggalnya para dewata, maka gunung wayang dan Cisanti adalah pusat kahyangan. Menurut T. Bachtiar dalam buku Bandung Purba, kata wayang berasal dari kata Wa yang artinya angin semilir dan lembut dan Yang atau Hyang artinya dewa atau Tuhan. Artinya di sinilah angin sorgawi dari Kahyangan mengelus lembut. Sebutan ini tentu saja sebagai gambaran dari keindahan tempat ini.

Dalam sejarah Sunda, Cisanti dan Citarum memiliki kaitan yang sangat erat.  Hal ini terkait dengan kerajaan Sunda tertua yaitu Tarumanagara. Secara etimologis, nama Citarum berasal dari dua kata, yaitu ci dan tarum. Ci atau cai berarti air. Ada juga yang menyebut Ci berarti Cahaya. Artinya Ci Tarum adalah Cahaya Tarum. Tarum (indigofera) yang disebut juga nila adalah jenis tanaman yang dipakai sebagai pahan pewarna.

Dari sebuah desa kecil yang dibangun oleh Jaya Singhawarman, lambat laun berkembang menjadi kerajaan besar. Kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat. Sejak dulu, Citarum memiliki peranan penting dan ikut mewarnai peradaban masyarakat Sunda.

Saat ini, arti penting Citarum bukan hanya untuk masyarakat Jawa Barat saja. Pada aliran sungai terpanjang di Jawa Barat ini bergantung hidup ribuan orang. Pada urat nadi sungai dengan total luas 12.000 KM persegi ini, hidup 10 juta jiwa. Dari aliran airnya, tiga bendungan besar dibangun. Ada Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Masih ditambah dengan Waduk Darma di Sumedang.

1400 megawat listrik dialirkan dari sungai ini untuk menerangi Jawa, Madura dan Bali. Dari aliran sungai ini, total 240.000 hektar sawah diairi. Wilayah pengairannya mencakup Subang, Karawang dan Bekasi.

Sayangnya, sudah bertahun tahun, sungai penting ini menjadi salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran tertinggi di dunia. Sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar alirannya dibarengi dengan  penggundulan hutan berlangsung pesat di wilayah hulu.

Menurut laporan dari Greenpeace, dari 500 pabrik yang ada, hanya sekitar 20% saja yang mengolah limbah mereka, sementara sisanya membuang langsung limbah mereka secara tidak bertanggung jawab ke anak sungai Citarum atau ke Citarum secara langsung tanpa pengawasan dan tindakan dari pihak yang berwenang (pemerintah).

Limbah yang dibuang pabrik-pabrik itu tentu saja mengandung bahan-bahan kimia berbahaya seperti Mangan (Mn) Chromium Heksavalen (Cr6+) Alkylphenol , Cadmiun (Cd), Merkuri (Hg) Tembaga (Cu) yang beberapa di antaranya bersifat karsinogenik, atau senyawa yang bisa menimbulkan kanker pada manusia, selain gangguan pada ginjal. Aliran air yang mengandung limbah-limbah berbahaya ini dialirkan ke sungai Citarum yang merupakan sumber air baku bagi warga Jakarta. Ya, 80 % air baku warga Jakarta berasal dari Sungai Citarum.

Facebook Comments

About almusthafa

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful

%d bloggers like this: