Templates by BIGtheme NET

Madzhab Da’hu

151021113451-ini-dia-sejarah-nama-muhammad-nabi-terakhir-ummat-islam(Ustad Miftah)

Tampaknya setiap orang Islam yang sering ke pengajian pernah mendengar riwayat ini. Yaitu ketika ada orang Arab (Badui) yang “menyelonong” ke Masjid Nabawi dan–maaf–buang hajatnya, kencing di situ.

Seorang sahabat meloncat dan berkata: afa adhribu ‘unuqah ya Rasulallah? Apakah harus aku pukul tengkuknya Ya Rasulallah?

Nabi Saw menjawab: Da’hu. Biarkan dia. Dan mereka pun membiarkan sampai orang Arab dusun itu selesai melepaskan hajatnya. Seingat saya, Dr. Muhammad Iqbal (atau Ali Syariati?) yang kemudian berkata: simaklah bagaimana Rasulullah Saw bersikap dalam hal ini. Nabi membiarkan, bahkan setelah itu minta dibawakan air, dan beliau ikut serta membersihkan bekas yang ditinggalkannya. Nabi pun mengajak orang Arab dusun itu bicara.

Masih kata Dr. Muhammad Iqbal: sekiranya sahabat menarik orang itu keluar, dan ia belum selesai dengan hajatnya, tentu bekas hajat itu tidak akan menetap di satu tempat. Ia akan mengotori banyak bagian di Masjid Nabawi itu. Dan mungkin—kalau tidak salah yang ini kutipan dari sabda Nabi Saw—orang Arab dusun itu belum tahu tata krama dan cara buang hajat yang baik. Alih-alih dipukul, ia seharusnya diberi pengetahuan.

Saya memaknai kisah itu dengan beberapa hal. Pertama, cerita itu makin mengukuhkan bahwa Masjid Nabawi memang beralaskan tanah dan debu padang pasir. Rasulullah Saw dan para sahabat memang shalat di atas tanah. Bagaimana mungkin orang Arab dusun itu buang hajat di atas hamparan tikar atau permadani. Barangkali kebiasaan di padang pasir yang tak berpohon dan bertelaga, adalah membuang hajat di atas pasir dan bebatuan. Wallahu a’lam.

Tentu selain itu ada dalil-dalil lain tentang shalat di atas pasir. Misalnya kebiasaan para sahabat yang mengusap wajah mereka usai shalat dan berdoa, karena bulir-bulir pasir itu menempel di sela-sela janggut mereka yang lebat, bahkan bergantung pada alis mereka yang tebal. Kebiasaan yang sampai sekarang kita ikuti, walau kita sudah shalat di atas sajadah yang halus dan bersih.

Ada juga dalil dalam Shahih Muslim, ketika para sahabat mengeluhkan pada Nabi Saw panasnya udara dan padang pasir untuk mereka letakkan dahi mereka di atasnya ketika sujud. Tidak disebutkan dalam riwayat itu “pembenaran” Nabi (mungkin masuk taqrir), tapi Ibnu Abbas mengisahkannya dengan berkata: kami mengadukan pada Nabi harru ramdha, dan siapa di antara kita yang tidak mampu kemudian menghamparkan jubahnya untuk dijadikan alas dahi mereka.

Saya menulis ini sambil jalan saja. Artinya, saya tidak mengecek rujukan-rujukan riwayat itu. Mungkin Ibnu Abbas mungkin Ibnu Mas’ud. Begitu pula sumber a fa adhribu ‘unuqah. Berharap kiranya para asatidz di milis ini berkenan meluangkan waktu untuk mengoreksi bila keliru, dan memahatkan rujukan bila ternyata sesuai seperti adanya.

Makna kedua yang saya pahami dari kisah Arab dusun itu adalah akhlak Rasulullah Saw. Bayangkanlah bila Masjid Nabawi itu adalah perumpamaan “rumah” Nabi, perwujudan ajaran-ajaran Islam. Lalu ada yang menodainya, menjatuhkan kehormatannya—karena ketidaktahuan, bukan kesengajaan. Anggaplah sekarang ada pendapat, ada kelompok, ada mazhab yang dianggap atau dituduh ‘menodai’ kesucian agama ini…akankah kita meneladani akhlak Nabi Saw?

Yang ketiga, bahwa ada dua mazhab besar dalam Islam: mazhab afa adhribu ‘unuqah dan mazhab da’hu. Mazhab si pemukul tengkuk dan mazhab orang yang membiarkannya (tapi kemudian membersihkan bekasnya, dan mengajaknya bicara).

Bayangkanlah bila kita berhadapan dengan kelompok yang dianggap menodai ajaran Islam. Apakah kita termasuk mazhab si pemukul tengkuk? Atau kita berusaha memahaminya, belajar sudut pandangnya kemudian mengajaknya bicara dengan santun?

Keyakinan takkan dapat dipaksakan. Tampaknya, bila paradigma si pemukul tengkuk yang diterapkan, makin lama orang yang berbeda justru makin kuat berpegang pada keyakinannya. Kalau kata Doel Soembang: cinta ditentang, makin membentang; cinta diusik malah asyik 🙂

Adakah paradigma pemukul tengkuk menyurutkan orang dari kekeliruan akidahnya? Tidak, justru memperkuat dan memberikan legitimasi akidah, kesabaran, istiqamah, dan kesan terzalimi yang sedang dialami.

Alangkah indahnya bila mazhab da’hu yang diterapkan, lalu membersihkan kotoran itu dengan tangan kita sendiri dan memberikan padanya pemahaman…

Ya Rasulallah, sesederhana itukah? Ataukah memang kami selama ini salah memahami…

Wallahu a’lam.

Sumber : Misykat

banner-kota

Facebook Comments

About Fajar Muchtar

Pimpinan Pesantren Al Musthafa dan Ketua Yayasan Al Mushtafa Rahmat Semesta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful

%d bloggers like this: